Maret yang berbeda, 2016
Halo, apa kabar?
Tak ada yang berubah, aku selalu berharap kau selalu dalam pelukan kasih sayang Tuhan. Tidak, tidak.. aku berdoa untuk setiap orang. Bukankah doa untuk orang lain pada akhirnya akan membuat para malaikat penjaga juga mendoakan hal yang sama untuk kita sendiri?
Aku.. kabarku jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
Kau tahu, saat ini aku tak lagi ke pantai saat matahari pergi. Hampir tak pernah lagi.
Tapi, sekarang aku terbiasa menunggu matahari datang. Fajar pada kenyataannya lebih indah dari senja, iya kan?
Itu jadi bagian dari kebiasaan baruku saat ini.
Aku terbiasa membaca pagi-pagi, sebelum terbit matahari. Aku duduk membaca menghadap barat di balkon. Saat menyadari matahari segera datang, aku berbalik ke timur. Sinar merah jingga menyirami tiap huruf yang aku baca, sinarnya berbaur dengan cahaya lampu.
Kau tahu, aku belum pernah sebahagia dan setenang saat-saat ini.
Tuhan menjebakku dalam jalan yang benar.
Ia membuatku mengerti dan melakukan banyak hal yang sebelumnya sulit aku lakukan.
Aku diajari bagaimana caranya bahagia karena orang lain.
Aku diajari bagaimana menjadi bahagia dengan memaafkan.
Aku diajari bagaimana menjadi bahagia dengan mendoakan.
Mendoakan itu begitu sederhana, (tapi... )
Dalam sekejap, tiap yang tak baik di hati pupus seketika.
Kalau tidak percaya, silahkan kamu juga mencobanya..
Doakan setiap orang yang pernah membuatmu kesal, pernah membuatmu marah, pernah membuatmu sedih..
Doakan yang terbaik untuk mereka..
Mereka?
Apa aku salah satunya?
Aku,
aku juga..
Aku selalu mendoakan yang terbaik..
untukmu, sebelum, juga setelah ini..
sebelum matahari pergi, setelah ia datang lagi..
1 comments
Aku paham, banyak wanita di dunia sebelum ini yang menikah dengan seseorang yang berahlak baik, dekat dengan Rabb-nya, namun seseorang itu, bukanlah yang sebelumnya mereka cintai. Aku bertanya-tanya sendirian, apakah memang harusnya demikian?
Apakah benar yang mereka katakan bahwa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya setelah mereka hidup bersama?
Apakah iya semudah itu?
Bagaimana kalau pada saatnya nanti, mereka kembali dipertemukan pada hari yang lain dengan seseorang yang
Saya rasa, tak ada satu pun manusia yang bisa mehidup-matikan perasaan.
Kita tak akan tahu apakah perasaan itu, benar-benar sudah pergi.
Apakah memang iya, kita harus memilih seseorang yang baik agamanya dengan mengabaikan perasaan kita sendiri?
Tapi bukankah Abu Bakr pun adalah salah seorang sahabat terdekat baginda Rasul yang tak diragukan lagi kebaikan ahlaknya? yang keindahan pengorbanannya nyaris tak tertandingi untuk agama ini? dan Umar ibn Al Khaththab pun, bukankah beliau juga begitu cerdas memahami Islam begitu baik dalam waktu singkat? Tak ada yang meragukan kehebatan pembelaannya tehadap kaum muslimin pada masanya.
Lantas mengapa Rasulullah menolak lamaran keduanya untuk Putri Fatimah dan kemudian memilih Ali?
Bukankah baik saja tidak cukup? Cerdas, pemberani, mapan, juga bukan alasan.
Bahkan kita sama-sama tahu, mahar pernikahan mereka hanyalah baju besi. Tapi itu semua tidak mengurangi keindahan ceritanya.
Kita memang tak bisa berbuat banyak. Namun setidaknya kita bisa berharap, berharap untuk bisa menjadi makmum hidup seseorang yang memudahkan surga bagi kita. Seseorang yang membuat kita benar-benar memahami mengapa cinta tak pernah bisa terdefinisi.
*
Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan (Salim A. Fillah).
0 comments
Terbenam
Published on Monday, 3 June 2013 in baper, medstudent life
Di belakang mereka, kami melompat pelan, dari satu batu ke batu yang lainnya, berbincang renyah di tengah suara ombak, sampai akhirnya kami menemukan batu besar yang cukup datar sebagai pijakan. Kami pun berdiri tegak menghadap laut yang saat itu warnanya makin kemerah-merahan, berceloteh lagi, lagi-lagi...
*
"Kita beruntung ya?"
"Beruntung? Beruntung kenapa, Mbak?"
"Beruntung bisa punya kesempatan belajar kedokteran.
Belajar tentang hidup.
Belajar ngadepin banyak orang yang karakternya beda-beda, usianya beda-beda
hampir tiep hari. "
"Bagus buat persiapan jadi ibu rumah tangga."
"Heh?????"
"Lho iya, Mbak.
Kalau sudah belajar ngadepin banyak karakter mulai dari yang usianya bayi sampai orang tua,
artinya pas ketemu keluarga baru kita nanti, kita sudah siap..
Siap ngurus bayi, siap ngurus anak, siap ngurus suami, siap ngurus mertua."
"Kok topiknya jadi ini +_+"
"Haha, saya juga nggak tahu, Mbak."
"Udah ah, pulang aja deh yuk. Udah mau Magribh."
"Pulang? Ah, Mbak. Mataharinya belum juga tenggelem."
"+__+"
0 comments
Entahlah,
tak tahu kapan detik-detik ini akan berhenti melaju dalam ceritamu.
Rasanya,
semua begitu cepat berlalu..
Secepat pagi meninggalkan malam.
Secepat siang meninggalkan fajar,
dan secepat senja meninggalkan saat-saat pentahtaan matahari di puncak langit-Nya.
Entahlah,
kamu pun tak tahu..
Apa mungkin,
siang ini akan jadi siang terakhirmu bisa melihatnya.
Jika memang ini yang terakhir,
rasanya.. ingin sekali menghentikan laju detik,
membiarkannya beku dalam satu batas waktu..
Tapi kemudian, semuanya berlalu..
Langit gelap,
air matanya berjatuhan perlahan.
sampai akhirnya..
Hujan,
sampai di senja Desember.
Tak membiru, tak juga menjingga,
matahari pun pergi, tak bersampai jumpa seperti biasanya.


0 comments