Lombok, 2026
Beberapa hari yang lalu, aku memperhatikan anak-anak bermain. Tidak ada yang istimewa. Mereka hanya berlari kecil di dalam rumah, lalu saling berebut bercerita tentang hal-hal yang mungkin besok sudah mereka lupakan.
Aku tersenyum. Lalu entah mengapa, aku justru merasa takut.. Takut karena aku sadar, semua ini sedang berlalu.
Dulu, saat masih sekolah, waktu terasa sangat lambat. Rasanya satu semester tidak kunjung selesai. Menunggu kelulusan terasa lama. Menunggu Iship terasa lama. Bahkan menunggu seseorang yang nantinya menjadi pasangan hidup pun terasa lama.
Sekarang entah bagaimana, jadi justru sebaliknya.
Waktu seperti berlari…
Rasanya baru kemarin aku belajar menjadi seorang ibu. Hari ini aku mulai melihat anak-anak tumbuh menjadi pribadi kecil yang semakin mandiri. Mereka mulai punya dunia sendiri. Mulai punya teman sendiri. Mulai bisa melakukan banyak hal tanpa bantuanku.
Dan mungkin suatu hari nanti, tanpa aku sadari, mereka akan berhenti meminta dipeluk erat.
Aku sering berpikir, dalam hidup ini kita seringkali mengejar begitu banyak hal… Gelar, pekerjaan, jabatan, penghargaan, pengalaman. Semuanya baik. Semuanya bisa menjadi ibadah saat diniatkan karena Allah.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah bisa kita kejar kembali.
Usia lima tahun.
Usia tiga tahun.
Masa ketika mereka masih percaya bahwa semua masalah bisa selesai hanya dengan dipeluk ibunya.
Aku mulai memahami mengapa Islam memberi perhatian yang begitu besar kepada keluarga. Selama ini aku sering melihat keluarga hanya sebagai bagian dari kehidupan pribadi. Padahal, semakin banyak belajar, aku justru melihat keluarga sebagai tempat pertama Allah mendidik manusia.
Di rumah, anak belajar tentang kasih sayang sebelum mengenal ilmu.
Di rumah, anak belajar tentang kejujuran sebelum mengenal hukum.
Di rumah, anak belajar tentang Allah sebelum mengenal dunia.
Barangkali karena itulah Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin bagi masyarakat, tetapi terlebih dahulu mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin di dalam rumah.
Aku sering bertanya kepada diriku sendiri, kalau suatu hari nanti Allah bertanya tentang hidupku, kira-kira apa yang akan lebih dahulu Dia tanyakan?
Apakah tentang sekolah yang pernah aku tempuh?
Tentang penelitian yang pernah aku tulis?
Atau justru tentang apakah aku hadir ketika anak-anak membutuhkan seorang ibu?
Aku tidak tahu jawabannya.
Yang aku tahu, semakin bertambah usia, aku semakin menyadari bahwa kesempatan hidup ternyata bukan hanya tentang melakukan lebih banyak hal. Kadang, ia justru tentang memilih apa yang tidak ingin kita lewatkan.
Aku masih ingin belajar.
Masih ingin menulis.
Masih ingin melakukan banyak hal..
Tetapi sekarang aku tidak lagi bertanya, “Apa lagi yang bisa aku capai?”
Aku lebih sering bertanya,
“Apa yang suatu hari nanti akan paling aku sesali jika hari ini aku lewatkan?”
Dan setiap kali pertanyaan itu datang, jawabannya hampir selalu sama.
Bukan sekolah yang tidak sempat aku kejar.
Bukan gelar yang terlambat aku raih.
Melainkan satu pelukan yang seharusnya masih bisa aku berikan, sebelum mereka merasa sudah terlalu besar untuk memintanya.
No Response to "Satu Pelukan"
Post a Comment