Hai, aku kembali membuka life mapping yang belasan tahun tertulis sebelum ini. Mataku basah saat membaca satu per satu apa yang pernah tertulis menjadi mimpi dan doa. Allah begitu Mahapenyayang, dan selalu demikian. Aku menulis dan meminta banyak hal : tentang sekolah, tentang karir, tentang bagian bumi yang ingin aku datangi, tentang pasangan hidup, tentang cita-cita menjadi Ibu rumah tangga, juga tentang seseorang yang pada saat itu aku bayangkan akan memanggil kita Ayah dan Ibu. Allah menjawab semuanya, dengan begitu sempurna, sampai pada detik ini, nyatanya.
Tentang pasangan hidup, aku mengerti bahwa apa yang Allah tentukan akan selalu yang paling baik. dan aku menerima itu, utuh. Sekalipun pada perjalanannya, aku hampir putus asa. Aku selalu bertanya dan meminta pada-Nya yang terbaik. Allah kemudian menitipkan kak Fach padaku. Aku tidak pernah menyangka, Kak Fach begitu penuh kasih sayang. Kak Fach yang sampai sekarang jarang berbicara banyak. Sekalipun begitu, beliau selalu mengusahakan yang terbaik untukku. Beliau selalu menemani kemanapun aku pergi, kecuali untuk urusan pekerjaan rutin ke Puskesmas kota tua. Kak Fach tidak pernah marah padaku. Bahkan beliau mempercayakan seluruh hartanya untukku. Tapi aku masih sesederhana dulu. Aku pun tidak pernah menyulitkannya. Aku selalu berusaha menjaga seluruh amanahnya dengan sebaik yang aku bisa.
Kak Fach memutuskan untuk menikah saat beliau telah menyelesaikan ppds -nya. Tentu aku tidak bisa egois, meninggalkannya melanjutkan ppds yang menyita waktu, saat beliau sendiri ingin fokus berkeluarga setelah selesai dengan dirinya sendiri. Di sisi lain, tetap saja aku perlu menuntut ilmu lagi. Aku berjanji pada diriku sendiri, kalaupun melanjutkan sekolah, aku tidak akan meninggalkan tanggung jawabku menemani anak-anak dan ayahnya di saat mereka membutuhkan kehadiranku selalu. Benar saja, Allah selalu memberikan jalan yang yang tidak pernah aku duga.
Aku diterima di salah satu kampus di Bristol yang memudahkanku menjalankan seluruh peranku dalam satu waktu. Aku bisa mengerjakan tugas akhirku di Mataram. Aku diberikan keleluasaan untuk bisa mengambil kuliah part time, sehingga rasanya kuliah hanya mengisi waktu luangku. Pada Juli ini, aku resmi menjadi mahasiswi lagi. Aku tidak pernah merencanakan untuk melanjutkan sekolah ke Eropa. Tapi Allah memilihkannya. Ini kali pertama aku apply sekolah lagi, aku tidak menyangka langsung mendapatkan unconditional LoA. Aku memutuskan tidak mencari beasiswa, sehingga aku bisa fleksibel kuliah sambil menemani tumbuh kembang anak-anak di kota ini.
*
Tahun-tahun berlalu, aku hanya berusaha berjalan dalam koridor, lebih-lebih setelah menikah. Aku percaya bahwa segala sesuatu dalam aturan Allah tidak pernah sedikitpun keliru. Aku percaya bagaimana Islam mengatur pembagian peran dalam keluarga adalah yang paling sempurna: peran sebagai Ibu dan istri, aku memilih dan menjalankannya. dan aku pun menuruti aturan Allah untuk berjalan jauh dengan selalu ditemani Kak Fach. Islam begitu sempurna aturannya, dalam penjagaan terhadap seorang perempuan.
*
Tidak dipungkiri, sistem di Indonesia masih jauh dari kata baik. Dan rasanya begitu berat, saat aku harus tetap bekerja di dalam sistem itu dengan segala dilemanya. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa aku hanya perlu diam dan pura-pura buta saat melihat sistem yang aku jalani berjalan demikian? Apa kebarmanfaatanku cukup berhenti, pada keilmuan medis saja? Atau, apa aku perlu keluar dari sistem ini dan fokus mengambil peran dalam mendidik generasi saja?
Aku masih belum punya jawaban atas semua dilema dalam kepalaku sendiri. Aku mengambil jeda, berusaha mencari jawaban dengan melanjutkan pendidikan di luar. Aku tidak ingin merepotkan diri. Aku merasa sudah selesai dengan diriku sendiri. Aku tidak tertarik mencari jumlah, ataupun nama. Aku sudah bahagia dengan segala yg Allah titipkan saat ini.
Aku hanya pernah sekali bertanya pada kak Fach, “Dengan segala amanah dan sumber daya yang Allah berikan, apa boleh kita hanya duduk diam menikmati hidup, sambil menemani tumbuh kembang anak-anak?” Kak Fach tertawa, “terserah kamu.”
*
Sampai saat ini, aku masih larut dalam kebingunganku sendiri. Di Mataram ataupun di Bristol, aku hanya berharap bisa menemukan jawaban. Aku menengok jauh ke belakang sampai aku pun menyadari, Allah menulis cerita hidup kita demikian sempurnanya pada masa lalu yang pernah kita lewati. Lantas, apakah pantas “kita” yang diamanahkan untuk menjadi khalifah di bumi, hanya peduli pada segala hal tentang diri kita sendiri?
*
35 tahun diberikan hidup di bumi, aku merasa belum sepenuhnya menjalankan amanah yang Allah berikan, dengan sepenuh hati.
No Response to "Mataram dan Bristol"
Post a Comment