0 comments

Bahagia yang Berubah

Published on Sunday, 4 January 2026 in

Lombok 2026

Ada masa dalam hidup ketika kebahagiaan diukur dari berubahnya mimpi-mimpi yang tertulis di kertas, menjadi kenyataan hidup yang berjalan. Segala bentuk pencapaian akademik, juga pekerjaan, pernah menjadi arah. Aku pernah merasa bisa menjadi apa yang aku ingin. Tentu saja itu semua pernah terasa penting. Sampai kemudian pada suatu titik, aku menyadari hampanya hidup, saat pencapaian itu menjadi arah yang diperjuangkan sendirian.

Bumi berubah banyak, seperti langit yang juga demikian. Seiring waktu, sesuatu di dalam diriku berubah.. aku menyadari tentang arah. Arah yang tidak lagi bermakna saat harus dituju dengan berjalan sendirian. Pada titik itu aku berhenti. Aku tidak lagi merasa bahagia atas pencapaian apa pun tentang aku. Bukan karena  tidak bermakna, melainkan karena aku yang tidak lagi tinggal di sana. 

Konon katanya bahagia itu ada pada hati yang ridho atas segala keputusan Rabb nya. Sampai kemudian, aku menyelami makna bahwa fitrah pun menjadi bagian dari keputusan Pencipta.. Menjadi perempuan, menjadi istri, menjadi ibu. Memang aturan Allah sudah begitu sempurna mengatur setiap detilnya.

Aku lebih suka di rumah dari menghabiskan waktu bekerja di luar. Aku bahagia saat bangun tidur bisa melihat anak-anak, tentang tawa mereka yang sederhana.. tentang cara mereka tumbuh, belajar mengenal dunia, dan berlari ke pelukanku setiap kali aku pulang. Bahkan saat mereka terlelap, dengan napas kecil yang teratur, ada rasa cukup yang tidak bisa dijelaskan oleh apa pun.

Aku juga bahagia dengan kebersamaan waktu bersama Kak Fach.. tentang kehadirannya yang nyata.. tentang perannya yang mungkin tidak selalu sempurna, tetapi selalu ada.. tentang bagaimana kami menjalani hari-hari.. lelah, belajar, saling memahami..tanpa perlu berpura-pura bahwa hidup selalu mudah.

Kebahagiaan ternyata begitu menenangkan. Ia tidak datang dengan sorak sorai atau pencapaian apapun. Ia hidup ke dalam setiap hari kita yang tersisa di bumi. Pengulangan hari-hari yang tampak biasa saja.. namun justru di sanalah hidup terasa benar-benar dijalani, bukan hanya dilewati.

Mungkin inilah yang kita sebut bertumbuh. Ketika ego perlahan mundur, dan cinta mengambil ruang paling luas. Ketika “aku” tidak lagi menjadi "tentang", dan hidup terasa lebih utuh karenanya.

Aku tidak kehilangan diriku. Aku hanya menemukan makna bahagia yang berbeda.. yang tidak lagi bertanya apa yang sudah aku capai dan lalui, tapi dengan siapa.. kita melangkah ke arah manapun di bumi.

Dan untuk saat ini, semua yang Allah titipi menjadi bagian yang rasanya sudah sangat lengkap di hati. 

*

Hai.. di tahun ini menjadi usia batas untuk sekolah lagi. Berulangkali Kak Fach bertanya dan memintaku "melanjutkan sekolah". Tapi tetap saja aku belum menemukan alasan untuk mengiyakan. Rasanya, yang terpenting saat ini adalah bagaimana aku bagi anak-anak dan ayahnya bisa menjadi bumi yang nyaman untuk mereka. 

0 comments

Jarak

Published on Wednesday, 5 November 2025 in

Ada satu hukum dalam fisika kuantum yang selalu membuatku berhenti lama setiap kali membacanya, "quantum entanglement". Hukum ini menjelaskan tentang dua partikel yang pernah berinteraksi akan terus saling terhubung, bahkan ketika jarak memisahkan mereka sejauh mungkin.

Jika satu partikel berubah, partikel lain akan merespons seketika, seolah tidak ada ruang dan waktu yang memisahkan. Einstein menyebutnya spooky action at a distance, tak masuk akal bagi hukum fisika klasik.

Tapi mungkin hukum ini bukan hanya tentang Fisika, melainkan cerminan dari bagaimana Allah menautkan mahluk satu dan yang lainnya dalam skenario-Nya. Setiap pertemuan, setiap doa, setiap niat baik, semuanya meninggalkan jejak yang tetap hidup di semesta, bahkan setelah semuanya berlalu.

Tentang seseorang yang memiliki niat baik, seseorang yang mendoakan hal baik untuk orang lain, seseorang yang berbuat baik, kemudian setiap kebaikan yang ia pancarkan kembali kepadanya dalam bentuk kebaikan yang lain. Atau mungkin juga tentang hati, yang tergetar saat ada hati lain yang tertuju padanya. Atau mungkin juga tentang seorang ayah dan ibu yang mengirimkan doa baik untuk kita, sehingga kadang kita merasa, setiap jalan yang kita lalui dimudahkan oleh-Nya. Mungkin ini bagian dari hukum entanglement. 

John Bell dan Alain Aspect membuktikan bahwa keterikatan itu nyata. Bahwa informasi bisa berpindah tanpa perantara yang dapat diukur. Dan bukankah doa juga demikian? Kita tak tahu bagaimana cara kerjanya, tapi kita tahu ia sampai. Secepat cahaya, bahkan lebih cepat dari kedip detik jam di pergelangan tanganmu.

Mungkin sedekah kecil yang kamu berikan diam-diam telah menolong seseorang yang tak akan pernah kamu kenal. Mungkin kesabaranmu menahan satu kalimat kasar hari ini, menyelamatkan seseorang dari luka yang hampir terjadi. Sampai kemudian entah bagaimana, ada saja kebaikan-kebaikan yang sampai kepadamu. Aku menyadari bahwa apapun yang kita lakukan selalu akhirnya kembali ke diri kita sendiri ataupun yang kita cintai, seperti juga doa baik tentangmu yang akan kembali pada siapapun yang mendoakan.

Begitulah alam semesta bekerja dalam kehendak Allah: setiap kebaikan saling berpantulan, setiap niat saling bergetar, setiap doa kembali berbalasan.

Kita mungkin merasa sendiri, padahal tidak pernah benar-benar terpisah. Kita hidup dalam jejaring pertolongan Allah.. diatur, disinkronkan, dan disampaikan dengan cara yang tak selalu bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Mungkin memang inilah hakikat hukum entanglement: bahwa tidak ada kebaikan yang berdiri sendiri, tidak ada pertemuan yang tak berarti, dan tidak ada doa yang hilang di udara. Segala sesuatu tetap terhubung, karena Allah menghubungkannya.

Dan mungkin tugas kita hanya satu: menjaga agar niatan hati yang kita kirim ke semesta tetap baik, tetap tulus, dan tetap menuju ridhoNya.

*

Fenomena Quantum Entanglement pertama kali dijelaskan oleh Albert Einstein, Boris Podolsky, dan Nathan Rosen pada tahun 1935 dalam EPR Paradox. Mereka mempertanyakan bagaimana dua partikel bisa tetap terhubung secara instan meskipun terpisah jarak.

Puluhan tahun kemudian, John Bell (1964) dan Alain Aspect (1981) melalui eksperimen kuantum membuktikan bahwa keterikatan itu nyata dan melanggar batasan lokalitas klasik.

Sejak saat itu, hukum ini menjadi dasar bagi pengembangan quantum computing dan quantum communication — sekaligus membuka kembali pertanyaan awal: apakah semua yang ada di alam semesta ini, sebenarnya masih saling terhubung pada tingkat yang tidak kita pahami?

*

Kadang, hukum-hukum alam hanyalah cara lain Allah menjelaskan cinta dan pertolongan-Nya dalam bahasa yang belum seluruhnya kita mengerti.


0 comments

Setelah Bulan Juli

Published on Wednesday, 27 August 2025 in

Lombok, Agustus 2025

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah bermalam di salah satu tanah lapang dengan langit yang bersih, yang saat malam harinya, bintang-bintang bisa terlihat lebih jelas, terasa lebih dekat seperti hamparan kerikil bercahaya di sungai langit. Di tempat itu, saat aku menarik nafas, udara dengan bau rumput basah terasa sejuk menenangkan sampai ke alveolus. Jalanan di Lombok saat ini berubah banyak sejak 10 tahun terakhir, membuatku baru menyadari, bahwa tempat itu saat ini menjadi bangunan perumahan baru, yang ternyata kami beli dua tahun yang lalu. Allah memberikan kami rumah, yang pada pagi harinya aku bisa melihat matahari terbit di jingga nya fajar, yang pada sore harinya, aku bisa menyaksikan langit biru jingga membentuk padanan warna mengagumkan di langit sore yang mengantarkan matahari tenggelam pada ufuk barat.

dan kabar baiknya, rumah kami saat ini di dekat pantai. Setiap hari, aku melewati jalanan pinggir pantai saat pergi dan pulang dari puskesmas kota tua. Aku bisa melihat ombak, laut biru, perahu-perahu nelayan setiap menoleh ke pinggir jalan. Allah memang selalu Mahasayang. Di saat kak Fach sibuk dengan pekerjaannya, Allah tidak membiarkanku kesepian di bumi. Sahabatku Aluh, pindah tempat bekerja ke Mataram mengikuti suaminya, yang sebelumnya sudah menetap di Lombok Timur, di tahun yang sama dengan kami yang menempati rumah ini. Menakjubkannya, mereka pun ternyata punya rumah dekat dari rumah kami. Setiap minggu kami ke pasar sore bersama di dekat rumah, juga ke kebun bersama, memetik mangga muda.

Anak-anak, aku bahagia sekali bisa menemani tumbuh mereka yang begitu indah saat ini. Fatha cinta sekali dengan Quran, tanpa kusadari dia menghafal juz pertama nya saat usia 3 tahun. dan si bungsu yang begitu cerdas, seperti hasil kloning dari ayahnya, identik wajah dan tingkahnya dengan kak Fach. Kami membuatkan mereka taman bermain di belakang rumah yang memungkinkan mereka grounding setiap hari. Aku menemani mereka belajar tentang banyak hal.

Aku merasa, sudah menemukan, apa yang aku cari di bumi.

Tapi kemudian saat menemani Kak Fach menghadiri acara papdi, aku bertemu dengan Prof Mulyanto. Terkahir bertemu beliau, mungkin lebih dari 10 tahun yang lalu. Haru, rasanya air mata mau tumpah. Prof Mul lah dekan yang langsung menelfon rektor untuk membebaskanku biaya kuliah saat pulang dari Jakarta memenangkan Olimpiade Nasional Pertamina tahun 2011. “Saya Terimakasih sekali Prof waktu itu,” aku melihat beliau lekat, seluruh rambutnya memutih, tapi ingatannya masih cukup baik. Beliau adalah peneliti hepatitis dengan banyak karya yang mengagumkan. Aku tertegun saat beliau kemudian mengatakan, “kalau ga ambil penyakit dalam, ya sekolah S2…bisa ambil imunologi.” Aku terdiam sebentar, “Oh ya Prof, suami sy juga penyakit dalam,” kemudian memperkenalkan Kak Fach ke Prof. Sampai kemudian sepertinya Prof bisa memahami, kenapa aku masih betah jadi dokter puskesmas di Kota Tua.


*

Entahlah. Kadang akupun bertanya pada diri sendiri? Apa cukup begini? Apa benar seperti ini? 

*