0 comments

Sehabis Hujan Bulan Juli

Published on Wednesday, 26 July 2017 in

Tahun demi tahun berlalu, memberikan banyak cerita, mengubah begitu banyak hal. Kita semakin dewasa. Aku merasa satu tahun terakhir ini Tuhan membuatku belajar tentang bagaimana penerimaan yang seharusnya. Aku semakin paham bahwa, setiap aturan dan ketentuan-Nya adalah tanda kasih sayang-Nya untuk kita.

Kau tahu Langit, bagaimana kasih sayang seorang ibu untuk anaknya, karena dia yang mengandung, melahirkan, juga membesarkannya. Tapi Tuhan, dia yang menciptakan kita dari ketiadaan menjadi kita. Kasih sayang-Nya jauh melampaui kasih sayang semua ibu di bumi. Meski kadang, kasih sayang itu terkesan menyakitkan. Melahirkan misalnya. Tapi kita pun paham bahwa, jika melahirkan tidak menyakitkan, jumlah populasi manusia di bumi, bisa membludak dalam waktu singkat. Kita semua bisa kacau, dalam sekejap.

Aku, aku sampai lupa menanyakan kabar, kamu baik? Aku selalu mendoakan, doa untuk semua orang.
Aku, aku mendapatkan banyak tawaran pekerjaan akhir-akhir ini, untuk September nanti. Entahlah. Keinginan sekolah jadi surut. Aku terjebak perasaan nyaman untuk tidak jauh dari rumah. Aku berpikir untuk tetap tinggal di sini, menjadi dokter biasa, bisa ada guna untuk orang banyak, seperti pohon yang tidak menjulang tinggi, tapi tetap rindang, meneduhkan.

dan tentang kapan menikah, adalah pertanyaan yang paling mengusik saat ini. Aku bertemu banyak orang setiap harinya. Aku juga mengenal banyak orang. Tapi kau paham, seaneh apa aku. Sampai saat ini aku belum menemukan dan ditemukan seseorang yang sama anehnya, denganku.

Semoga kau menjadi seseorang yang terbaik, untuk setiap orang yang kau cintai dan juga mencintaimu.

Praya, Juli 2017

0 comments

Nostalgic: Ke Sekotong lagi

Published on Monday, 8 May 2017 in


Hari itu Minggu pagi. Langit Mataram cerah. Ada keluarga kecil yang datang ke IGD rumah sakit saat jam jaga saya hampir habis. Keluarga kecil, ibu dan bapak muda, membawa anak laki-laki 5 tahun yang patah tulang. Tidak lama setelahnya saat infus hendak dipasang, saya mendengar mereka murojaah surat al-mulk. Bapak muda berusaha menuntun si anak yang hafalannya masih terbata-bata. Saya terharu sendirian, mengikuti dalam hati.

Entahlah, pagi itu saya lelah sekali karena insiden malam harinya sebelum berangkat jaga. Dari pagi sampai sore saya mengikuti seminar hari sebelumnya. Saat pulang, kunci rumah ternyata dibawa sepupu saya mudik. Karena sudah dekat Magribh, saya cari tempat makan yang ada mushollanya, that's in pantai Ampenan, sekalian sunset-an, hihih. Saat mau mengambil tempat duduk di bibir pantai, sepiring pelecing terlempar ke arah saya karena mas yang bawa makanan kesandung, dan well, tas sampai sepatu belepotan sambal pelecing. Ya Allah, gimana mau jaga belepotan sambel begini. Mau marah? Nggak akan buat saya bersih lagi. Jadi ya udahlah. Mau ijin telat buat beli baju dulu, temen yang jaga mau ada acara. Allah, akhirnya saya rempong sendiri ke rumah sakit, agak belepotan.
Dan malam itu, pasien IGD mengalir terus sampai pagi, saya tertidur di meja, paginya.

Begitu jam jaga habis, Allah kasi hari yang keren. Saya ke beberapa gili di Sekotong, gili nanggu (gili yang beberapa kali saya kunjungi saat masih SD, nostalgic banget!), gili tangkong, gili sudak, dan gua dualandak. Kami menjalajahi beningnya laut Sekotong pake perahu kecil yang disetir temen iship saya, Melissa, Hihihi. Kami disuguhi makanan laut yang disediakan kak Fairuz, temen yang rumahnya di Sekotong: pelalah kepiting, kerapu bakar, plus rujak dan pelecing. What a perfect day!


Gili nanggu yang nostalgic
Gili Tangkong, kamu kapan2 ke sini

Ini Kami di Gua DuaLandak

Kami di gili sudak!



Bahagia itu sederhana, jangan biarkan hal-hal tidak penting merusaknya. Dan kamu, semoga bahagia selalu.


0 comments

Menikah..

Published on Monday, 12 December 2016 in ,

*
“Kapan nikah?”
Satu pertanyaan yang selalu terasa beda bagi para pemuda yang sedang dalam penantian akan separuh jiwanya. Ada yang dag-dig-dug, cuma mesam-mesem, ada juga yang kontan langsung galau. Halah lebay. Tapi kenyataannya gitu lho, coba aja yang masih single dan dalam masa-masa itu, jujur deh. Apalagi denger kalimat“Bila Hati Rindu Menikah”..  Aha!  :))
Saya dan teman-teman dulu sih malah cekikikan kalo pembahasannya udah mulai ‘nyerempet’ kata nikah. It’s like.. a very true feeling from the deepest side of our hearts.. Haha.. Kocak pisan, euy.
Siapa sih yang nggak pernah menikmati indahnya penantian itu? Lho iya, menurut saya indah. Oleh karena itu nikmatilah, momen sekali seumur hidup itu. Masa-masa ta’aruf, kemudian nazhor, jika cocok lantas dilanjutkan dengan khitbah (meminang) kemudian walimah. Ah, so sweet. Namun proses tiap orang berbeda, ada yang mulus bebas hambatan seperti jalan tol, ada juga yang berliku-liku dan penuh perjuangan. Seorang teman saya tertawa ketika saya bilang ta’aruf itu trial and error process. Walau kemudian ia akhirnya mengiyakan. Hihi.
Ada yang sekali proses langsung mantap dan yakin bahwa seseorang itu adalah jodohnya. Begitu ketemu, lihat, istikhoroh kemudian sama-sama cocok. Alhamdulillah, rezekinya memang seperti itu. Namun ada juga yang prosesnya rumit dan memakan waktu. Entah karena terlalu pemilih atau memang banyak ditolak. Yang terakhir memang agak bikin down ya, walau semuanya hanya takdir yang telah Allah gariskan untuk kita. Tapi saya justru memandang proses yang penuh liku itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik. Lho kok?
Ya, karena saya juga bukan termasuk yang prosesnya seperti jalan tol tadi. Mungkin mirip rute Jakarta-Puncak saat weekend kali ya. Mendaki, berkelok, menurun, menikung tajam bahkan kadang berlaku juga sistem buka-tutup. Hehehe. Singkat cerita, saya butuh waktu yang tidak singkat untuk menambatkan hati pada sang belahan jiwa. Tsaaahh.
Saya menikah di usia 24 tahun lebih 16 hari. Honestly, I never dreamt to get married in my early youth. NEVER. Masih pengen hepi-hepi, masih pengen bebas, menikmati masa muda. Eittss, hepi-hepi dan bebas yang positif ya. Saya masih pengen menuntut ilmu sebanyak-banyaknya. Ilmu syar’i, ilmu tentang kerumahtanggaan, ilmu psikologi dalam pernikahan, ilmu mengurus anak, etc.
Cita-cita saya dulu ingin menikah di usia 21 tahun ke atas. Jadi ketika masih sweet and seventeen-an ada yang meminta, tegas-tegas saya bilang TIDAK. Maaf, saya belum mau dan siap untuk menikah. Kemudian dimulailah masa-masa pencarian itu. Proses demi proses terlalui, tapi… saya masih belum menemukan apa yang saya cari. Dan sebenarnya apa sih yang saya cari?
Kekayaan materi.. jelas bukan. Saya bukan tipe materialistis dalam masalah uang, insya Allah. Orangtua selalu mendidik saya bahwa uang bukan standar bahagia. Titel.. bukan juga, toh siapa sih saya ini? Mengenyam pendidikan di bangku kuliah saja tidak pernah. Ketampanan.. saya rasa juga bukan, karena bagi saya hal itu bukan syarat utama untuk menolak pinangan seorang laki-laki. Beda ya dengan kebanyakan laki-laki, yang mensyaratkan kecantikan lahir sebagai faktor yang tak bisa ditawar lagi. Well, boleh aja kok. Seperti laki-laki, wanita juga mencari yang menarik. Tapi mungkin khususon buat saya, ganteng itu nomer kesekian lho.
Lalu apa? Keshalihan, jelas syarat mutlak. Shalih bukan hanya rajin hadir ta’lim, celana ngatung atau berjenggot. Tapi shalih adalah keseluruhan dari ilmu dan amal. Satu paket. Dan tanda pengamalan itu adalah akhlak yang baik. Laki-laki shalih adalah laki-laki yang berakhlak baik. Jangan lupakan itu.
Alhamdulillah Allah mempertemukan saya dengannya, suami saya. Dialah jawaban dari semua penantian, do’a dan harapan. Bersamanya saya temukan chemistry dan kenyamanan. Akhlaknyalah yang sebenarnya membuat saya yakin bahwa dialah orangnya. Alhamdulillaahilladzii bini’matihi tatimush-shalihaat. I finally found you :)
Masa-masa pencarian dan penantian itu tidaklah menjemukan bagi saya. Ketika banyak diantara kawan-kawan yang mulai ‘ribut’ soal nikah, alih-alih ikutan galau, saya malah enjoy dengan kesendirian saya. Datang ke majelis-majelis ilmu, membekali diri dengan berbagai keterampilan, membangun relasi, dan mengembangkan hobi saya yaitu menjahit. Entahlah, saya cuma merasa bahwa, “kenapa sih kita nggak nunggu dan menikmatinya aja?”. Toh dinikmati atau tidak, tidak akan merubah apapun. Why don’t we just sit back, relax and cherish the moment we had? Why bother to screw what you have today for something uncertain? That I know someday, I will miss these all… These singleness moments.
Dalam masa-masa itu, ada juga hal-hal yang membuat saya merasa kurang nyaman. Walau kadang justru terasa lucu dan menggelikan. Contohnya pertanyaan, “kapan nikah?” atau vonis sinis, “orang itu, kalau terlalu pilah-pilih soal jodoh bisa-bisa nanti nggak dapet jodoh lho…”. Heh? Jadi saya ini di mata sebagian orang terlalu pemilih ya? Saya coba introspeksi dan menelaah diri, apa iya memang saya terlalu pemilih..? Tapi semua pertanyaan selalu saya jawab dengan sebuah jurus jitu, “santai aja, insya Allah kalau udah waktunya nikah pasti nikah kok, minta do’anya aja yaaa…” *pasang senyum tiga jari*
Kalau dipikir-pikir, ya, saya memang memilih, memilih yang terbaik sebelum saya menyesal telah memilih orang yang salah. Adapun trial dan error yang saya alami, menurut saya adalah ujian kesabaran saya atas kebenaran janji Allah. Seberapa kuat prinsip saya, bahwa kekufuan dalam agama adalah yang utama. Seberapa teguh keyakinan saya bahwa Allah menunda karena suatu alasan. Suatu alasan yang mungkin tidak saya ketahui mengapa, suatu rencana yang tidak saya ketahui apa. Entahlah, saya hanya percaya, penantian itu tidak sia-sia. It was worth to wait. Dan di penghujung penantian, Allah telah menepati janjinya. And yes, He had saved the best for last.
Ketika saya memutuskan untuk menikahi seseorang, saya harus yakin bahwa dialah orang yang paling saya inginkan untuk menghabiskan hidup bersama-sama. Membesarkan anak, melewati masa-masa sulit, membaca buku berdua, berbagi mimpi dan cita-cita. Dia haruslah orang yang paling saya inginkan untuk berada di sisi, ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Pilihlah dengan siapa kita akan berbagi momen-momen itu. Pilih hati-hati, dengan istikharah dan pertimbangan yang matang. Jangan karena khawatir nggak dapat jodoh, nggak enak omongan orang atau dikejar target menikah. Lalu asal saja, yang penting status berubah. Tidak, karena hidup kita selanjutnya, masa depan anak-anak kita kelak sangat tergantung dari pilihan yang akan kita buat.
Pilihlah hanya karena Allah. Choose for your love, then love your choice.
Dan ketika pertanyaan “kapan nikah?” itu mampir lagi di telinga, jangan biarkan ia mengusik perasaan, melainkan jadikan ia cambuk untuk memperbaiki diri, lagi dan lagi. Karena Allah memasangkan seseorang sesuai dengan kadar keimanannya. Keep positive-thinking and husnuzhon to Allah. Karena Dia adalah sebagaimana persangkaan hambaNya terhadapNya, right? :)
*
"Why don’t we just sit back, relax and cherish the moment we had? Why bother to screw what you have today for something uncertain? That I know someday, I will miss these all… These singleness moments."