0 comments

Mataram dan Bristol

Published on Wednesday, 8 July 2026 in

Hai, aku kembali membuka life mapping yang belasan tahun tertulis sebelum ini. Mataku basah saat membaca satu per satu apa yang pernah tertulis menjadi mimpi dan doa. Allah begitu Mahapenyayang, dan selalu demikian. Aku menulis dan meminta banyak hal : tentang sekolah, tentang karir, tentang bagian bumi yang ingin aku datangi, tentang pasangan hidup, tentang cita-cita menjadi Ibu rumah tangga, juga tentang seseorang yang pada saat itu aku bayangkan akan memanggil kita Ayah dan Ibu. Allah menjawab semuanya, dengan begitu sempurna, sampai pada detik ini, nyatanya.

Tentang pasangan hidup, aku mengerti bahwa apa yang Allah tentukan akan selalu yang paling baik. dan aku menerima itu, utuh. Sekalipun pada perjalanannya, aku hampir putus asa. Aku selalu bertanya dan meminta pada-Nya yang terbaik. Allah kemudian menitipkan kak Fach padaku. Aku tidak pernah menyangka, Kak Fach begitu penuh kasih sayang. Kak Fach yang sampai sekarang jarang berbicara banyak. Sekalipun begitu, beliau selalu mengusahakan yang terbaik untukku. Beliau selalu menemani kemanapun aku pergi, kecuali untuk urusan pekerjaan rutin ke Puskesmas kota tua. Kak Fach tidak pernah marah padaku. Bahkan beliau mempercayakan seluruh hartanya untukku. Tapi aku masih sesederhana dulu. Aku pun tidak pernah menyulitkannya. Aku selalu berusaha menjaga seluruh amanahnya dengan sebaik yang aku bisa.

Kak Fach memutuskan untuk menikah saat beliau telah menyelesaikan ppds -nya. Tentu aku tidak bisa egois, meninggalkannya melanjutkan ppds yang menyita waktu, saat beliau sendiri ingin fokus berkeluarga setelah selesai dengan dirinya sendiri. Di sisi lain, tetap saja aku perlu menuntut ilmu lagi. Aku berjanji pada diriku sendiri, kalaupun melanjutkan sekolah, aku tidak akan meninggalkan tanggung jawabku menemani anak-anak dan ayahnya di saat mereka membutuhkan kehadiranku selalu. Benar saja, Allah selalu memberikan jalan yang tidak pernah aku duga.

Aku diterima di salah satu kampus di Bristol yang memudahkanku menjalankan seluruh peranku dalam satu waktu. Aku bisa mengerjakan tugas akhirku di Mataram. Aku diberikan keleluasaan untuk bisa mengambil kuliah part time, sehingga rasanya kuliah hanya mengisi waktu luangku. Pada Juli ini, aku resmi menjadi mahasiswi lagi. Aku tidak pernah merencanakan untuk melanjutkan sekolah ke Eropa. Tapi Allah memilihkannya. Ini kali pertama aku apply sekolah lagi, aku tidak menyangka langsung mendapatkan unconditional LoA. Aku memutuskan tidak mencari beasiswa, sehingga aku bisa fleksibel kuliah sambil menemani tumbuh kembang anak-anak di kota ini.

*

Tahun-tahun berlalu, aku hanya berusaha berjalan dalam koridor, lebih-lebih setelah menikah. Aku percaya bahwa segala sesuatu dalam aturan Allah tidak pernah sedikitpun keliru. Aku percaya bagaimana Islam mengatur pembagian peran dalam keluarga adalah yang paling sempurna: peran sebagai Ibu dan istri, aku memilih dan menjalankannya. dan aku pun menuruti aturan Allah untuk berjalan jauh dengan selalu ditemani Kak Fach. Islam begitu sempurna aturannya, dalam penjagaan terhadap seorang perempuan.

*

Tidak dipungkiri, sistem di Indonesia masih jauh dari kata baik. Dan rasanya begitu berat, saat aku harus tetap bekerja di dalam sistem itu dengan segala dilemanya. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, apa aku hanya perlu diam dan pura-pura buta saat melihat sistem yang aku jalani berjalan demikian? Apa kebermanfaatanku cukup berhenti, pada keilmuan medis saja? Atau, apa aku perlu keluar dari sistem ini dan fokus mengambil peran dalam mendidik generasi saja?

Aku masih belum punya jawaban atas semua dilema dalam kepalaku sendiri. Aku mengambil jeda, berusaha mencari jawaban dengan melanjutkan pendidikan di luar. Aku tidak ingin merepotkan diri. Aku merasa sudah selesai dengan diriku sendiri. Aku tidak tertarik mencari jumlah, ataupun nama. Aku sudah bahagia dengan segala yg Allah titipkan saat ini. 

Aku hanya pernah sekali bertanya pada kak Fach, “Dengan segala amanah dan sumber daya yang Allah berikan, apa boleh kita hanya duduk diam menikmati hidup, sambil menemani tumbuh kembang anak-anak?” Kak Fach tertawa, “terserah kamu.” 

*

Sampai saat ini, aku masih larut dalam kebingunganku sendiri. Di Mataram ataupun di Bristol, aku hanya berharap bisa menemukan jawaban. Aku menengok jauh ke belakang sampai aku pun menyadari, Allah menulis cerita hidup kita demikian sempurnanya pada masa lalu yang pernah kita lewati. Lantas, apakah pantas “kita” yang diamanahkan untuk menjadi khalifah di bumi, hanya peduli pada segala hal tentang diri kita sendiri? 

*

35 tahun diberikan hidup di bumi, aku merasa belum sepenuhnya menjalankan amanah yang Allah berikan, dengan sepenuh hati.


0 comments

Bahagia yang Berubah

Published on Sunday, 4 January 2026 in

Lombok 2026

Ada masa dalam hidup ketika kebahagiaan diukur dari berubahnya mimpi-mimpi yang tertulis di kertas, menjadi kenyataan hidup yang berjalan. Segala bentuk pencapaian akademik, juga pekerjaan, pernah menjadi arah. Aku pernah merasa bisa menjadi apa yang aku ingin. Tentu saja itu semua pernah terasa penting. Sampai kemudian pada suatu titik, aku menyadari hampanya hidup, saat pencapaian itu menjadi arah yang diperjuangkan sendirian.

Bumi berubah banyak, seperti langit yang juga demikian. Seiring waktu, sesuatu di dalam diriku berubah.. aku menyadari tentang arah. Arah yang tidak lagi bermakna saat harus dituju dengan berjalan sendirian. Pada titik itu aku berhenti. Aku tidak lagi merasa bahagia atas pencapaian apa pun tentang aku. Bukan karena  tidak bermakna, melainkan karena aku yang tidak lagi tinggal di sana. 

Konon katanya bahagia itu ada pada hati yang ridho atas segala keputusan Rabb nya. Sampai kemudian, aku menyelami makna bahwa fitrah pun menjadi bagian dari keputusan Pencipta.. Menjadi perempuan, menjadi istri, menjadi ibu. Memang aturan Allah sudah begitu sempurna mengatur setiap detilnya.

Aku lebih suka di rumah dari menghabiskan waktu bekerja di luar. Aku bahagia saat bangun tidur bisa melihat anak-anak, tentang tawa mereka yang sederhana.. tentang cara mereka tumbuh, belajar mengenal dunia, dan berlari ke pelukanku setiap kali aku pulang. Bahkan saat mereka terlelap, dengan napas kecil yang teratur, ada rasa cukup yang tidak bisa dijelaskan oleh apa pun.

Aku juga bahagia dengan kebersamaan waktu bersama Kak Fach.. tentang kehadirannya yang nyata.. tentang perannya yang mungkin tidak selalu sempurna, tetapi selalu ada.. tentang bagaimana kami menjalani hari-hari.. lelah, belajar, saling memahami..tanpa perlu berpura-pura bahwa hidup selalu mudah.

Kebahagiaan ternyata begitu menenangkan. Ia tidak datang dengan sorak sorai atau pencapaian apapun. Ia hidup ke dalam setiap hari kita yang tersisa di bumi. Pengulangan hari-hari yang tampak biasa saja.. namun justru di sanalah hidup terasa benar-benar dijalani, bukan hanya dilewati.

Mungkin inilah yang kita sebut bertumbuh. Ketika ego perlahan mundur, dan cinta mengambil ruang paling luas. Ketika “aku” tidak lagi menjadi "tentang", dan hidup terasa lebih utuh karenanya.

Aku tidak kehilangan diriku. Aku hanya menemukan makna bahagia yang berbeda.. yang tidak lagi bertanya apa yang sudah aku capai dan lalui, tapi dengan siapa.. kita melangkah ke arah manapun di bumi.

Dan untuk saat ini, semua yang Allah titipi menjadi bagian yang rasanya sudah sangat lengkap di hati. 

*

Hai.. di tahun ini menjadi usia batas untuk sekolah lagi. Berulangkali Kak Fach bertanya dan memintaku "melanjutkan sekolah". Tapi tetap saja aku belum menemukan alasan untuk mengiyakan. Rasanya, yang terpenting saat ini adalah bagaimana aku bagi anak-anak dan ayahnya bisa menjadi bumi yang nyaman untuk mereka. 

0 comments

Jarak

Published on Wednesday, 5 November 2025 in

Ada satu hukum dalam fisika kuantum yang selalu membuatku berhenti lama setiap kali membacanya, "quantum entanglement". Hukum ini menjelaskan tentang dua partikel yang pernah berinteraksi akan terus saling terhubung, bahkan ketika jarak memisahkan mereka sejauh mungkin.

Jika satu partikel berubah, partikel lain akan merespons seketika, seolah tidak ada ruang dan waktu yang memisahkan. Einstein menyebutnya spooky action at a distance, tak masuk akal bagi hukum fisika klasik.

Tapi mungkin hukum ini bukan hanya tentang Fisika, melainkan cerminan dari bagaimana Allah menautkan mahluk satu dan yang lainnya dalam skenario-Nya. Setiap pertemuan, setiap doa, setiap niat baik, semuanya meninggalkan jejak yang tetap hidup di semesta, bahkan setelah semuanya berlalu.

Tentang seseorang yang memiliki niat baik, seseorang yang mendoakan hal baik untuk orang lain, seseorang yang berbuat baik, kemudian setiap kebaikan yang ia pancarkan kembali kepadanya dalam bentuk kebaikan yang lain. Atau mungkin juga tentang hati, yang tergetar saat ada hati lain yang tertuju padanya. Atau mungkin juga tentang seorang ayah dan ibu yang mengirimkan doa baik untuk kita, sehingga kadang kita merasa, setiap jalan yang kita lalui dimudahkan oleh-Nya. Mungkin ini bagian dari hukum entanglement. 

John Bell dan Alain Aspect membuktikan bahwa keterikatan itu nyata. Bahwa informasi bisa berpindah tanpa perantara yang dapat diukur. Dan bukankah doa juga demikian? Kita tak tahu bagaimana cara kerjanya, tapi kita tahu ia sampai. Secepat cahaya, bahkan lebih cepat dari kedip detik jam di pergelangan tanganmu.

Mungkin sedekah kecil yang kamu berikan diam-diam telah menolong seseorang yang tak akan pernah kamu kenal. Mungkin kesabaranmu menahan satu kalimat kasar hari ini, menyelamatkan seseorang dari luka yang hampir terjadi. Sampai kemudian entah bagaimana, ada saja kebaikan-kebaikan yang sampai kepadamu. Aku menyadari bahwa apapun yang kita lakukan selalu akhirnya kembali ke diri kita sendiri ataupun yang kita cintai, seperti juga doa baik tentangmu yang akan kembali pada siapapun yang mendoakan.

Begitulah alam semesta bekerja dalam kehendak Allah: setiap kebaikan saling berpantulan, setiap niat saling bergetar, setiap doa kembali berbalasan.

Kita mungkin merasa sendiri, padahal tidak pernah benar-benar terpisah. Kita hidup dalam jejaring pertolongan Allah.. diatur, disinkronkan, dan disampaikan dengan cara yang tak selalu bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan.

Mungkin memang inilah hakikat hukum entanglement: bahwa tidak ada kebaikan yang berdiri sendiri, tidak ada pertemuan yang tak berarti, dan tidak ada doa yang hilang di udara. Segala sesuatu tetap terhubung, karena Allah menghubungkannya.

Dan mungkin tugas kita hanya satu: menjaga agar niatan hati yang kita kirim ke semesta tetap baik, tetap tulus, dan tetap menuju ridhoNya.

*

Fenomena Quantum Entanglement pertama kali dijelaskan oleh Albert Einstein, Boris Podolsky, dan Nathan Rosen pada tahun 1935 dalam EPR Paradox. Mereka mempertanyakan bagaimana dua partikel bisa tetap terhubung secara instan meskipun terpisah jarak.

Puluhan tahun kemudian, John Bell (1964) dan Alain Aspect (1981) melalui eksperimen kuantum membuktikan bahwa keterikatan itu nyata dan melanggar batasan lokalitas klasik.

Sejak saat itu, hukum ini menjadi dasar bagi pengembangan quantum computing dan quantum communication — sekaligus membuka kembali pertanyaan awal: apakah semua yang ada di alam semesta ini, sebenarnya masih saling terhubung pada tingkat yang tidak kita pahami?

*

Kadang, hukum-hukum alam hanyalah cara lain Allah menjelaskan cinta dan pertolongan-Nya dalam bahasa yang belum seluruhnya kita mengerti.