0 comments

Menemukan Cahaya

Published on Monday, 31 August 2026 in

Aku menghabiskan masa kecil di desa, pada masa ketika bumi tidak seperti saat ini. Ketika anak-anak tidak mengenal jadwal yang penuh sejak pagi sampai sore, ketika sepulang sekolah tidak selalu berarti berpindah dari satu tempat les ke tempat les berikutnya. Ibu sebenarnya guru TK saat itu, tetapi kemudian berhenti mengajar dan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kami di rumah. dan Bapak adalah salah satu guru SMA Daerah. Pada masa itu jumlah guru di daerah kami belum sebanyak sekarang, sehingga seorang guru bisa mengajar banyak hal yang sebenarnya tidak seluruhnya merupakan bidangnya, seperti Bapak yang mengajar ekonomi, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dll. Keadaan memang serba terbatas, tetapi anehnya aku tidak pernah merasa sedang hidup dalam keterbatasan. Rumah kami mungkin tidak menyediakan semua yang tersedia bagi anak-anak hari ini, tetapi dunia di luar pintu rumah begitu luas. Ada sawah, sungai, pohon-pohon, jalan kampung, tanah yang bisa dibentuk menjadi apa saja, dan teman-teman yang selalu punya ide tentang permainan baru. Rasanya itu sudah lebih dari cukup.

Sepulang sekolah, aku sering bermain di sungai, mencari ikan dan siput di sawah, berjalan di lumpur, juga ikut menanam kacang dan padi saat musim menanam. Kadang aku bersepeda keliling kampung sampai entah sudah berapa kali melewati jalan yang sama, juga bermain kelereng mengabaikan rasa lapar di bawah matahari. Pada hari yang lain aku membuat periuk kecil dari tanah liat, membentuknya dengan tangan yang kotor, lalu menunggu dengan sabar seolah-olah benda kecil yang bentuknya bahkan tidak sempurna itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Kalau sedang ingin mencari sesuatu untuk dimakan, pohon mangga dan jambu adalah tujuan berikutnya. Kami memanjatnya sendiri, mencari buah yang masih muda, kemudian turun dengan tangan atau baju penuh hasil buruan. Tidak ada yang menyebut semua kegiatan itu sebagai proses belajar. Tidak ada yang mengatakan bahwa bermain di lumpur sedang melatih sensorik, memanjat pohon sedang melatih koordinasi tubuh, membuat periuk sedang mengembangkan kreativitas, atau berkeliling kampung sedang membangun kemampuan sosial. Kami tidak membutuhkan istilah-istilah itu. Kami hanya tahu satu kata sederhana: bermain.

Menjelang sore, dunia bermain itu harus kutinggalkan karena waktunya pergi mengaji. Aku berjalan menuju surau menggunakan mukena putih, melewati jalan kecil yang diapit rumpun bambu. Kalau matahari sudah turun, jalan itu menjadi sangat gelap. Gulita pekat yang sesungguhnya, bukan gelap karena lampu kamar dimatikan sementara cahaya dari rumah sebelah masih masuk melalui jendela. Tidak ada lampu jalan. Di kanan dan kiri hanya bambu yang tinggi, suara dedaunan yang bergesekan ketika tertiup angin, kunang-kunang, dan bayangan-bayangan yang bagi seorang anak kecil bisa berubah menjadi apa saja. Aku membawa Iqro dan sebuah obor sederhana dengan puluhan anak lainnya masing2 dengan obornya sendiri yang dibuat dari bambu, kadang dari pelepah pepaya yang diisi minyak tanah bersumbu serabut kelapa. Api kecil itu bergoyang setiap kali aku berjalan, hanya mampu menerangi beberapa langkah di depan. Aku tidak pernah bisa melihat seluruh jalan. Tetapi rupanya aku hanya perlu melihat cukup jauh untuk mengambil langkah berikutnya.

Saat ini, ketika mengingat kembali jalan kecil itu, aku sering tersenyum sendiri. Betapa sederhana kehidupan saat itu. Seorang anak membawa Iqro dan obor, berjalan di antara rumpun bambu menuju tempat mengaji. Tidak ada yang menganggapnya istimewa. Aku sendiri tentu tidak pernah berpikir bahwa puluhan tahun kemudian adegan sederhana itu justru menjadi salah satu kenangan yang paling melekat. Barangkali memang begitu cara masa kecil bekerja. Kita sibuk menunggu sesuatu yang besar terjadi, padahal yang akhirnya tinggal di dalam ingatan justru hal-hal kecil: bau minyak tanah dari obor, lumpur di sela jari kaki, suara roda sepeda di jalan kampung, mangga renyah yang dimakan bersama teman-teman, suara orang mengaji dari kejauhan, atau tangan kecil yang berusaha membuat periuk dari segumpal tanah.

Namun ada satu hal yang baru benar-benar kupahami setelah dewasa. Tumbuh di desa yang transportasi umumnya hanya kereta kuda/ cidomo saat itu tidak pernah membuat Ibu dan Bapak berpikir bahwa duniaku harus ikut menjadi kecil. Mereka justru memperkenalkanku kepada banyak hal. Aku belajar menari, memainkan alat musik, bernyanyi, bermain catur, membaca puisi, tilawatil Quran, mewarnai, dan mengikuti berbagai perlombaan yang sekarang bahkan tidak semuanya mampu kuingat satu per satu. Dari TK sampai SD, aku seperti dibiarkan mengetuk banyak pintu. Tidak ada tuntutan bahwa semua pintu itu harus membawaku menjadi seseorang. Kalau hari ini tertarik menggambar, aku menggambar. Kalau besok ingin bernyanyi, aku bernyanyi. Kalau kemudian tertarik pada catur, aku duduk di depan papan hitam-putih itu dan belajar. Sebagian bertahan cukup lama, sebagian lagi hanya sebentar. Dan ternyata tidak apa-apa.

Dulu aku tidak memahami mengapa Ibu dan Bapak membiarkanku mencoba begitu banyak hal. Sekarang, ketika aku sendiri mempunyai anak, aku mulai mengerti. Mungkin mereka tidak sedang mencari bidang yang bisa membuatku menjadi juara. Mungkin mereka hanya sedang membantuku mencari diriku sendiri. Seorang anak tidak lahir sambil membawa keterangan tentang apa yang kelak akan membuat matanya berbinar. Kita harus mempertemukannya dengan banyak hal terlebih dahulu. Musik, buku, olahraga, alam, angka, warna, bahasa, cerita, tanaman, binatang, bahkan kebosanan. Biarkan ia mencoba. Biarkan ia meninggalkan sesuatu yang ternyata tidak disukainya. Biarkan pula ia kembali pada sesuatu yang ternyata terus memanggilnya. Sebab mungkin tugas orang tua bukan menentukan apa yang harus dicintai anaknya, melainkan memberi kesempatan agar anak itu menemukan sendiri apa yang membuatnya jatuh cinta.

Aku baru mulai menemukan sesuatu yang benar-benar ingin kutekuni ketika memasuki SMP. Bapak perlahan mengarahkanku untuk lebih fokus pada Olimpiade Sains, menulis, dan bahasa Inggris. Dari banyak hal yang pernah kucoba sejak kecil, ternyata Biologi yang membuatku ingin tinggal lebih lama. Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan ketika membaca bagaimana sebuah sel bekerja, bagaimana tumbuhan hidup, bagaimana tubuh mempertahankan dirinya, bagaimana makhluk-makhluk yang tampaknya sederhana ternyata memiliki sistem yang begitu rumit. Aku bisa duduk sangat lama membaca sesuatu hanya karena penasaran. Tidak ada yang perlu menyuruhku. Tidak ada yang perlu menjanjikan hadiah. Aku ingin tahu, maka aku belajar. Dan mungkin itulah tanda paling sederhana bahwa seorang anak telah menemukan sesuatu yang benar-benar disukainya.

Tahun 2005 aku mengikuti OSN untuk pertama kalinya di Jakarta sebagai perwakilan NTB. Sejak saat itu kehidupan remajaku perlahan berubah. Olimpiade Sains Biologi mengambil hampir seluruh waktu yang kumiliki. Pelatihan dimulai sejak pukul tujuh pagi dan baru selesai sekitar pukul lima sore. Setelah pulang, membaca Quran dan sholat, aku membuka buku lagi sampai sekitar pukul dua belas malam. Aku tidur beberapa jam, lalu pukul empat pagi bangun kembali untuk belajar sambil menunggu Subuh. Setelah itu hari dimulai lagi. Begitu terus-menerus. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun. Dari OSN 2005, 2007, perjalanan panjang pada 2008 dan tahun-tahun berikutnya, hingga akhirnya 2011 di Jakarta menjadi OSN terakhirku. Masa remajaku banyak dihabiskan di antara buku, soal, pelatihan, rasa penasaran, kegagalan memahami sesuatu, kemudian kegembiraan kecil ketika akhirnya berhasil memahaminya.

Fokus sebesar itu tentu memiliki harga. Ketika teman-teman mengikuti pelajaran sekolah seperti biasa, aku tetap menjalani persiapan Olimpiade. Akibatnya banyak materi sekolah lain yang harus kupelajari sendiri. Waktuku juga tidak lagi seluas ketika kecil. Tidak ada lagi begitu banyak ruang untuk menari, bernyanyi, bermain catur, atau mencoba semua hal secara bersamaan. Pada titik tertentu, hidup memang meminta kita memilih. Kita tidak mungkin berjalan jauh ke segala arah sekaligus. Jika ingin masuk lebih dalam ke satu bidang, terkadang kita harus rela meninggalkan beberapa jalan lainnya. Aku memilih Biologi. Bukan karena bidang lain tidak menarik, tetapi karena waktu dan tenaga manusia terbatas, sementara sesuatu yang benar-benar kita cintai kadang meminta perhatian yang hampir utuh.

Anehnya, ada satu hal yang tetap bertahan di sela-sela semua kesibukan itu: menulis. Mungkin karena menulis tidak memerlukan banyak hal. Tidak membutuhkan panggung, alat musik, papan catur, atau tempat latihan. Ia hanya membutuhkan kepala yang masih ingin bercerita dan sedikit waktu untuk duduk. Aku masih menulis cerpen dan artikel di sela-sela persiapan Olimpiade, dan beberapa kali tulisan itu memenangkan lomba tingkat nasional sampai sekitar 2010 menjadi tahun terakhirku aktif mengikuti lomba menulis fiksi, karena setelahnya aku belajar menulis tentang penelitian, eskrim cokelat salah satunya.

Sekarang aku telah berada di sisi kehidupan yang berbeda. Dulu aku adalah anak yang diarahkan, sekarang aku adalah orang tua yang harus mengarahkan. Dan ternyata posisi ini jauh lebih sulit. Sebab ketika kita mencintai anak-anak kita, mudah sekali cinta berubah menjadi kecemasan. Kita ingin mereka cerdas. Kita ingin mereka tidak tertinggal. Kita ingin memberikan pendidikan terbaik, sekolah terbaik, kesempatan terbaik. Kita melihat anak orang lain sudah bisa membaca, lalu diam-diam bertanya apakah anak kita terlambat. Kita melihat anak lain pandai berhitung, bermain musik, berenang, atau berbicara bahasa asing, kemudian mulai menghitung apa saja yang belum bisa dilakukan anak kita. Tanpa sadar, masa kecil bisa berubah menjadi sebuah perlombaan yang bahkan tidak pernah diminta oleh anak-anak itu sendiri.

Pada saat seperti itu, aku ingin mengingat kembali anak kecil yang pernah menjadi diriku.

Sebelum mengenal mikroskop, aku mengenal lumpur. Sebelum membaca buku Biologi yang tebal, aku pernah membuat periuk dari tanah liat. Sebelum belajar tentang fisiologi tumbuhan, aku memanjat pohon untuk mencari mangga muda. Sebelum mengenal kompetisi nasional, aku bermain kelereng di jalan kampung. Sebelum duduk berjam-jam mengerjakan soal Olimpiade, aku pernah bersepeda tanpa tujuan mengelilingi desa. Sebelum hidupku menjadi sangat fokus, Ibu dan Bapak memberiku kesempatan untuk hidup dengan sangat luas. Mereka tidak memutuskan sejak aku berusia lima tahun bahwa kelak aku harus menyukai sains. Mereka membiarkanku menari terlebih dahulu, bernyanyi, menggambar, mengaji, membaca puisi, bermain catur, memanjat pohon, membuat periuk, mencari ikan, dan pulang dengan kaki berlumpur.

Mungkin justru karena itulah, ketika akhirnya aku memilih Biologi, pilihan itu terasa benar-benar milikku.

Itulah yang ingin kuingat setiap kali mulai terlalu mencemaskan masa depan anak-anakku. Aku tidak harus membuat mereka menjadi seperti aku. Mereka bahkan tidak harus menyukai hal-hal yang kusukai. Aku tidak perlu membuat masa kecil mereka menjadi persiapan panjang untuk sebuah profesi yang belum tentu mereka inginkan. Tugasku mungkin jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih sulit: memperkenalkan mereka kepada dunia seluas mungkin, kemudian cukup sabar untuk memperhatikan. Membiarkan mereka menggambar walaupun gambarnya tidak bagus. Membiarkan mereka mencoba musik meskipun beberapa bulan kemudian bosan. Membiarkan mereka berlari, menanam sesuatu, memelihara binatang, membaca buku yang mereka pilih sendiri, bermain air, belajar bahasa, mengenal angka, mendengar cerita, bertanya hal-hal aneh, membongkar sesuatu karena penasaran, dan sesekali tidak melakukan apa-apa.

Tidak semua kegiatan harus menghasilkan prestasi. Tidak setiap hobi harus berubah menjadi kompetisi. Tidak setiap bakat harus segera diukur. Ada hal-hal yang boleh dilakukan seorang anak hanya karena ia bahagia melakukannya.

Kelak mungkin akan ada satu hal yang membuat mereka berhenti lebih lama. Sesuatu yang membuat mereka lupa waktu. Sesuatu yang membuat mereka ingin belajar tanpa disuruh. Ketika saat itu datang, mungkin barulah aku perlu membantu mereka berjalan lebih jauh. Seperti Bapak yang akhirnya mengarahkanku lebih serius pada Olimpiade ketika aku mulai menemukan kecintaanku pada sains. Ada waktunya membuka sebanyak mungkin pintu, dan ada waktunya membantu seorang anak memilih satu pintu untuk dimasuki lebih dalam. Kebijaksanaan orang tua mungkin terletak pada kemampuan membedakan kedua waktu itu.

Anak-anakku tidak akan memiliki masa kecil yang sama denganku. Dunia mereka berbeda. Mereka mungkin tidak akan pernah berjalan menuju surau dengan obor dari bambu atau pelepah pepaya. Mereka mungkin tidak akan mengenal gelap yang sama dengan gelap di jalan kecil di antara rumpun bambu masa kecilku. Mereka tumbuh di dunia yang jauh lebih terang, lebih cepat, lebih terhubung, dan menawarkan jauh lebih banyak pilihan daripada yang pernah kumiliki. Aku tidak mungkin membawa mereka kembali ke masa kecilku, dan memang tidak perlu.

Tetapi ada sesuatu dari sana yang ingin kubawa untuk mereka.

Ruang.

Ruang untuk mencoba. Ruang untuk gagal. Ruang untuk bosan. Ruang untuk bermain. Ruang untuk berubah pikiran. Ruang untuk menyukai sesuatu tanpa harus menjadi yang terbaik di dalamnya. Dan ketika suatu hari mereka akhirnya menemukan sesuatu yang benar-benar mereka cintai, ruang untuk mengejarnya dengan sungguh-sungguh.

Aku sering kembali mengingat obor kecil yang kubawa menuju surau. Api itu tidak pernah cukup besar untuk menerangi seluruh jalan. Aku hanya bisa melihat beberapa langkah di depanku. Selebihnya tetap gelap. Tetapi aku terus berjalan, dan selalu sampai.

Mungkin menjadi orang tua pun seperti itu.

Aku tidak akan pernah bisa menerangi seluruh masa depan anak-anakku. Aku tidak tahu akan menjadi siapa mereka, jalan mana yang akan mereka pilih, berapa kali mereka akan salah arah, apa yang akan mereka cintai, apa yang kelak akan mereka tinggalkan, atau seberapa jauh mereka akan pergi. Dan barangkali aku memang tidak perlu mengetahui semuanya.

Aku hanya perlu menjaga agar cahaya kecil itu tetap menyala.

Cukup untuk membuat mereka melihat beberapa langkah di depan.

Cukup agar ketika dunia terasa gelap, mereka tahu ke mana harus meletakkan kaki berikutnya.

Selebihnya, biarlah mereka berjalan.

Sebab dulu, tanpa kusadari, Ibu dan Bapak juga melakukan hal yang sama kepadaku.

Mereka tidak menerangi seluruh jalanku.

Mereka hanya memberiku obor.

Dan membiarkanku menemukan jalan.


Spread The Love, Share Our Article

Related Posts

No Response to "Menemukan Cahaya"