Lombok 2026
Ada masa dalam hidup ketika kebahagiaan diukur dari berubahnya mimpi-mimpi yang tertulis di kertas, menjadi kenyataan hidup yang berjalan. Segala bentuk pencapaian akademik, juga pekerjaan, pernah menjadi arah. Aku pernah merasa bisa menjadi apa yang aku ingin. Tentu saja itu semua pernah terasa penting. Sampai kemudian pada suatu titik, aku menyadari hampanya hidup, saat pencapaian itu menjadi arah yang diperjuangkan sendirian.
Bumi berubah banyak, seperti langit yang juga demikian. Seiring waktu, sesuatu di dalam diriku berubah.. aku menyadari tentang arah. Arah yang tidak lagi bermakna saat harus dituju dengan berjalan sendirian. Pada titik itu aku berhenti. Aku tidak lagi merasa bahagia atas pencapaian apa pun tentang aku. Bukan karena tidak bermakna, melainkan karena aku yang tidak lagi tinggal di sana.
Konon katanya bahagia itu ada pada hati yang ridho atas segala keputusan Rabb nya. Sampai kemudian, aku menyelami makna bahwa fitrah pun menjadi bagian dari keputusan Pencipta.. Menjadi perempuan, menjadi istri, menjadi ibu. Memang aturan Allah sudah begitu sempurna mengatur setiap detilnya.
Aku lebih suka di rumah dari menghabiskan waktu bekerja di luar. Aku bahagia saat bangun tidur bisa melihat anak-anak, tentang tawa mereka yang sederhana.. tentang cara mereka tumbuh, belajar mengenal dunia, dan berlari ke pelukanku setiap kali aku pulang. Bahkan saat mereka terlelap, dengan napas kecil yang teratur, ada rasa cukup yang tidak bisa dijelaskan oleh apa pun.
Aku juga bahagia dengan kebersamaan waktu bersama Kak Fach.. tentang kehadirannya yang nyata.. tentang perannya yang mungkin tidak selalu sempurna, tetapi selalu ada.. tentang bagaimana kami menjalani hari-hari.. lelah, belajar, saling memahami..tanpa perlu berpura-pura bahwa hidup selalu mudah.
Kebahagiaan ternyata begitu menenangkan. Ia tidak datang dengan sorak sorai atau pencapaian apapun. Ia hidup ke dalam setiap hari kita yang tersisa di bumi. Pengulangan hari-hari yang tampak biasa saja.. namun justru di sanalah hidup terasa benar-benar dijalani, bukan hanya dilewati.
Mungkin inilah yang kita sebut bertumbuh. Ketika ego perlahan mundur, dan cinta mengambil ruang paling luas. Ketika “aku” tidak lagi menjadi "tentang", dan hidup terasa lebih utuh karenanya.
Aku tidak kehilangan diriku. Aku hanya menemukan makna bahagia yang berbeda.. yang tidak lagi bertanya apa yang sudah aku capai dan lalui, tapi dengan siapa.. kita melangkah ke arah manapun di bumi.
Dan untuk saat ini, semua yang Allah titipi menjadi bagian yang rasanya sudah sangat lengkap di hati.
*
Hai.. di tahun ini menjadi usia batas untuk sekolah lagi. Berulangkali Kak Fach bertanya dan memintaku "melanjutkan sekolah". Tapi tetap saja aku belum menemukan alasan untuk mengiyakan. Rasanya, yang terpenting saat ini adalah bagaimana aku bagi anak-anak dan ayahnya bisa menjadi bumi yang nyaman untuk mereka.
No Response to "Bahagia yang Berubah"
Post a Comment