0 comments

Hujan nyaris tidak pernah reda sudah beberapa hari di pulau ini.
Aku melihat wajah langit masih dari balik jendela yang sama, dengan secangkir cokelat hangat, dan buku berwarna biru. Sesekali hawa dingin menyiram wajah. Aku mendongak melihat dedaunan yang menari dengan angin. Kemudian kembali membaca buku biruku.

Kau tahu, aku seakan hidup dalam setiap kata-katamu yang dulu. Tuhan memberiku kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya menjalani peranmu beberapa tahun yang lalu: menduga-duga dalam ketidakpastian, memperjuangkan yang meragukan, bertahan dengan segala kebingungan, menolak semua yang datang hanya untuk seseorang yang kita pun tak yakin paham hatinya di mana. Rasanya, aku sedang menghadapi diriku sendiri di masa lalu. Hidup ini lucu, hati kadang mampu membuat kecerdasan logika bertekuk lutut tak tahu arah.

Entahlah, Tuhan mungkin sedang membuatku paham, bahwa akulah titik salahnya, tidak pernah kamu. Rasanya, seolah Tuhan sedang mendidikku, menjadi yang paling baik dari diriku sendiri. Aku merasa, sedang dipersiapkan untuk hal baru yang akan dititipkan-Nya. Hal yang sangat berarti, tapi aku sendiri belum tahu apa.

Aku ingin banyak bercerita. Tapi aku tidak bisa menemukan diksi yang cukup untuk bercerita apa adanya.
Mungkin takdirnya memang begini.
Setiap kata, setiap cerita, bahkan bisa menjadi kesalahan berarti.

*

Fiksi bulan Januari, 2019.

Spread The Love, Share Our Article

Related Posts

No Response to " "